Fiqih

Posted: Agustus 9, 2008 in Artikel

Dalam hadis dijelaskan : “Sesungguhnya malaikat Jibril turun menemui Adam, dan berkata kepadanya : Sesungguhnya Allah SWT menyuruhku untuk menawarkan satu pilihan dari tiga pilihan yang ditawarkanNya, yaitu : akal, agama, dan rasa malu. Adam menjawab: Aku memilih akal. Maka rasa malu dan agama pun berkata : Kalau begitu, kami bersama kamu wahai Adam, sebab Allah telah menyuruh kami agar selalu bersama akal di manapun ia berada.”

Dari hadis di atas, kita dapat menarik beberapa hal penting, sebagai berikut :

  1. Segala sesuatu yang ditolak oleh akal, maka ia tidak termasuk agama. Orang yang tidak berakal, berarti tidak beragama dan tidak mempunyai rasa malu, sekalipun ia melakukan shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari.
  2. Selama agama tidak terpisah dari akal dalam bentuk apa pun, maka menutup pintu ijtihad berarti menutup pintu agama, karena arti ijtihad adalah melepaskan belenggu – belenggu yang mengikat akal serta memperluas wawasan ( peluang ) untuk menarik beberapa masalah dari akar – akarnya ( ushul-nya ). Oleh sebab itu, jika kita meninggalkan akal berarti telah meninggalkan agama, berdasarkan adanya keharusan atas keterkaitan antara keduanya.
  3. Orang yang ‘alim ( ilmuwan, ulama, cendekiawan ) yang fanatik terhadap suatu mazhab, dalam mazhab apa saja, maka keadaan orang ‘alim yang demikian itu jauh lebih buruk dari orang yang bodoh, karena ia pada saat seperti itu tidak fanatik pada agama dan Islam, tetapi justru fanatik pada individu, yaitu pada Imam mazhab itu sendiri, karena akal kita pun tidak mengharuskan kitaw menentangnya, bukan berarti kita menentang Islam dan hakekat kebenarannya. Begitu juga kalau menentang mazhab, kita juga tidak menentang Islam dan hakekat kebenarannya, sekalipun kita menentang Imam mazhab, sebab yang benar adalah kita mengikuti gambaran yang dilukiskan ( dipersepsikan ) oleh akal dalam menggambarkan Islam.

Kita sama – sama mengetahui bahwa pada permulaan Islam tidak ada mazhab dan tidak ada sekte – sekte, dan pada awal – awal Islam muncul, Islam bersih dari pengaruh luar, dan kaum Muslim pada waktu itu mencapai kejayaannya. Juga diketahui dengan pasti bahwa adanya sekte – sekte dan mazhab – mazhab itu dapat memecah belah kaum Muslimin, serta dapat memperuncing jurang pemisah antara mereka, karena dengannya, tidak mungkin mereka dapat menyusun kekuatan dan mengatur langkah bersama untuk merumuskan satu jalan untuk mencapai satu tujuan. Tetapi bagi musuh – musuh Islam dan para penjajah, justru sebaliknya. Yakni, mereka mendapatkan peluang dan kesempatan yang sangat baik dari adanya perpecahan ini untuk menyebarluaskan berbagai fitnah. Cara yang dilakukan mereka untuk memenangkan Barat dan Timur dan untuk menjatuhkan Timur, hanya dengan cara devide et impera ( memecah belah ) dan hanya menyebarkan isu – isu yang menggebuk bangsa Timur.

Mughniyah, Muhammad Jawad.1999.”Fiqih Lima Mazhab”, PT. LENTERA BASRITAMA; JAKARTA.

Komentar
  1. John mengatakan:

    Assalamualaikum wbt.

    Sy tahu bahwa hadith ini dari Saidina Ali r.a
    Boleh beritahu sy ini hadith riwayat mana ? Bukhari,Muslim ?

    Thanks .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s